Satu Tahun Agustina-Iswar Memimpin: Semarang Sehat, Warganya Kuat dan Terlindungi
Setahun Agustina–Iswar memimpin Semarang, peserta UHC melonjak jadi 228 ribu, kemiskinan turun ke 9,36 persen, dan program stunting serta infrastruktur kesehatan diperkuat.

SEMARANG – Memasuki satu tahun kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin, sektor kesehatan di Semarang menunjukkan perkembangan signifikan. Pembangunan tidak hanya difokuskan pada infrastruktur, tetapi juga pada perlindungan warga, penurunan angka kemiskinan, penguatan layanan ibu dan anak, serta perluasan jaminan kesehatan.

Program unggulan Semarang Sehat menjadi fondasi utama. Konsep sehat dimaknai secara menyeluruh—meliputi kecukupan gizi, lingkungan yang mendukung, ekonomi yang membaik, serta jaminan akses layanan kesehatan bagi seluruh warga.

Agustina menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak dasar masyarakat. Pemerintah kota, menurutnya, ingin membangun Semarang yang kuat dari dalam, melalui tubuh yang sehat, mental yang tangguh, ekonomi yang stabil, dan rasa aman saat mengakses layanan medis.

Angka Kemiskinan Turun Konsisten

Pembangunan kesehatan berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan. Dalam lima tahun terakhir, angka kemiskinan di Semarang terus menurun. Dari 11,84 persen pada 2020, kini diperkirakan menjadi 9,36 persen pada 2025. Penurunannya konsisten setiap tahun, menunjukkan efektivitas intervensi sosial dan ekonomi yang dilakukan pemerintah.

Program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta perluasan jaminan kesehatan menjadi strategi terpadu. Pemerintah menilai kesehatan dan kemiskinan saling berkaitan, sehingga keduanya ditangani secara simultan.

Peserta UHC Melonjak Tajam

Capaian penting lainnya adalah perluasan Universal Health Coverage (UHC). Pada 2024, peserta UHC tercatat 98.261 orang. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat drastis menjadi 228.859 peserta. Artinya, lebih dari 130 ribu warga tambahan kini memiliki akses layanan kesehatan tanpa terbebani biaya.

Dengan cakupan ini, masyarakat tidak lagi ragu datang ke puskesmas atau rumah sakit karena kendala administrasi maupun biaya pengobatan.

Penanganan Stunting Jadi Prioritas

Pemkot Semarang juga memperkuat intervensi pencegahan stunting. Program Daycare Rumah Pelita menyasar 160 balita, sedangkan Week Care menjangkau remaja, ibu hamil, dan balita di sejumlah puskesmas.

Distribusi tablet tambah darah digencarkan untuk 78.612 remaja putri, 18.293 ibu hamil, dan 261 calon pengantin. Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) turut memberikan edukasi gizi kepada puluhan ribu remaja dan ibu hamil.

Layanan kesehatan ibu dan anak diperluas, mencakup 17.636 ibu hamil, 17.561 ibu bersalin, 27.091 bayi baru lahir, dan 77.484 balita. Sebanyak 60.794 balita aktif dipantau melalui 1.643 posyandu yang didukung 15.741 kader di 177 kelurahan.

Infrastruktur Kesehatan Diperkuat

Sepanjang 2025, empat puskesmas dibangun atau direhabilitasi, yakni Puskesmas Tlogosari Kulon, Kebokatan Tahap 2, Pegandan Tahap 2, dan Genuk Tahap 2. Selain itu, pembangunan dan perbaikan Puskesmas Pembantu (Pustu) juga dilakukan, termasuk Pustu Ratu Ratih dan Pustu Beringin.

Langkah ini bertujuan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari fasilitas utama.

Rumah Inspirasi dan Target 2026

Di bidang sosial, Pemkot mengembangkan Rumah Inspirasi sebagai ruang pemberdayaan warga. Hingga 2025, telah berdiri tujuh unit di berbagai kecamatan. Fasilitas ini menjadi pusat kegiatan sosial, penguatan ekonomi keluarga, dan pendampingan masyarakat rentan.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan perluasan layanan, termasuk pengembangan daycare di 16 lokasi, weekcare di 40 puskesmas, bantuan pangan bagi 805 keluarga miskin, pembangunan pustu baru, serta peningkatan kapasitas 265 tenaga kesehatan.

Sembilan Rumah Inspirasi tambahan juga direncanakan dibangun di sejumlah kecamatan untuk memperluas jangkauan pemberdayaan masyarakat.

Agustina menegaskan komitmennya untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam akses layanan kesehatan. Keberhasilan satu tahun ini disebut sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan partisipasi aktif masyarakat.

Semarang Sehat bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama untuk membangun kota yang lebih kuat, inklusif, dan terlindungi.***


Anda mungkin juga menyukai