Pawai Ogoh-Ogoh Semarang Disorot: Meriahkan Toleransi, Namun Dikeluhkan Soal Keterlambatan dan Manajemen
Pawai Ogoh-Ogoh Semarang berlangsung meriah dengan semangat toleransi, namun menuai kritik warga terkait keterlambatan, manajemen acara, dan kenyamanan penonton.

SEMARANG – Pawai Ogoh-Ogoh yang digelar Pemerintah Kota Semarang pada Minggu (26/4) berlangsung meriah dan menyedot ribuan warga. Mengusung semangat toleransi lintas agama, kegiatan ini diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Namun di balik kemeriahan tersebut, pelaksanaan acara menuai sorotan tajam dari masyarakat, terutama terkait aspek teknis dan kedisiplinan waktu.

Sejumlah warga mengeluhkan lamanya waktu tunggu di sepanjang rute dari Balai Kota hingga Simpang Lima. Mereka mengaku harus berdiri berjam-jam di bawah terik matahari tanpa kejelasan jadwal kedatangan rombongan utama.

Dikutip dari akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang banyak warga yang mengeluhkan lamanya waktu menunggu acara.

“Sudah datang dari siang, tapi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung lewat. Banyak yang akhirnya kelelahan,” tulis salah satu netizen di media sosial.

Kritik juga mengarah pada kedisiplinan penyelenggara, termasuk kehadiran pejabat yang dinilai tidak tepat waktu. Warga menilai kondisi tersebut menunjukkan kurangnya keteladanan dalam menghargai waktu, terlebih ketika masyarakat diminta hadir sesuai jadwal.

Selain itu, manajemen arak-arakan pawai turut menjadi perhatian. Beberapa netizen menyebut rombongan sempat terputus dan alur peserta tidak berjalan tertib. Bahkan, kehadiran kendaraan pejabat di tengah barisan disebut mengganggu jalannya parade.

“Rombongan pawai sempat terpisah, jadi tidak enak ditonton. Harusnya bisa lebih rapi,” komentar warga lainnya.

Akibat berbagai kendala tersebut, durasi acara disebut molor hingga menjelang malam. Hal ini berdampak pada kondisi peserta yang terlihat kelelahan saat memasuki titik akhir di kawasan Simpang Lima.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang tetap menegaskan bahwa pawai ini merupakan simbol kuat harmoni dan keberagaman. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen kota dalam merawat toleransi, sejalan dengan capaian peringkat tiga nasional Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.

Meski mendapat apresiasi dari sebagian masyarakat sebagai ajang hiburan dan kolaborasi budaya, berbagai kritik yang muncul menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan acara serupa ke depan.

Warga berharap Pemerintah Kota Semarang dapat melakukan evaluasi menyeluruh, khususnya dalam hal pengaturan waktu, koordinasi lapangan, serta kenyamanan peserta dan penonton, agar kemeriahan acara sejalan dengan kualitas pelaksanaannya.

 
 

Anda mungkin juga menyukai