SEMARANGNETWORK.COM – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana atau Lies Iswar Aminuddin, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan PKK bukan kewajiban setiap ibu rumah tangga.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul ramainya keluhan sejumlah ibu-ibu di media sosial Threads mengenai padatnya agenda PKK, Dasa Wisma (Dawis), pemilahan sampah, hingga kegiatan lingkungan lainnya.
Lies menjelaskan, PKK merupakan organisasi sosial yang mengedepankan semangat kerelawanan dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, warga tidak harus mengikuti seluruh kegiatan apabila memiliki kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, atau keterbatasan waktu.
“Tidak ada ketentuan bahwa setiap warga atau setiap ibu-ibu harus ikut PKK. Organisasi ini lebih banyak berorientasi pada kegiatan sosial,” tegasnya.
Ia mengatakan, pelaksanaan kegiatan PKK mengacu pada 10 Program Pokok PKK berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X PKK periode 2025–2030. Program tersebut juga diselaraskan dengan kebijakan Pemerintah Kota Semarang, termasuk Semarang Sehat, Semarang Bersih, Semarang Cerdas, Semarang Makmur, dan Semarang Tangguh.
Menurut Lies, PKK berperan sebagai mitra pemerintah dalam mendukung berbagai program kemasyarakatan, mulai dari pendataan kesehatan keluarga, pencegahan stunting, keluarga berencana, hingga pengembangan bank sampah.
Kader PKK di tingkat lingkungan dinilai memiliki peran penting karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Namun, keterlibatan tersebut bertumpu pada kesediaan untuk membantu dan semangat gotong royong.
“Teman-teman yang ada di sini memang punya rasa sosial yang tinggi, rela berkorban, mau saling membantu, dan ingin membantu menyelesaikan permasalahan di lingkungan masyarakat sendiri. Kita ini tidak ada honornya, memang harus berkorban,” ujarnya.
Lies mempersilakan warga yang ingin bergabung untuk berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa warga yang tidak memiliki cukup waktu tidak seharusnya merasa dipaksa mengikuti setiap agenda.
“Kalau ibu-ibu PKK yang ikut, ya silakan bergabung. Kalau memang waktunya sibuk atau tidak memungkinkan, monggo, itu terserah masing-masing. Yang penting, bagaimana kita tetap berteman dengan tetangga dan lingkungan. Bentuk partisipasinya bisa dilakukan sesuai kemampuan masing-masing warga,” tuturnya.
Di tengah keluhan yang ramai di Threads, penjelasan tersebut menegaskan pentingnya membedakan tujuan program PKK dengan kewajiban menghadiri setiap kegiatan. Pemberdayaan keluarga diharapkan tetap berjalan dengan membuka ruang partisipasi yang mempertimbangkan kesibukan dan kemampuan warga.
Dengan demikian, kegiatan PKK diharapkan tetap menjadi wadah gotong royong dan pemberdayaan masyarakat tanpa menimbulkan anggapan bahwa seluruh ibu rumah tangga wajib mengikuti semua agenda yang diselenggarakan.

