Harga Garam Rakyat Jateng Anjlok Saat Panen, Pemprov Imbau Petambak Tahan Penjualan
Harga garam rakyat di Jateng turun saat panen. Pemprov mengimbau petambak menahan penjualan dan memperkuat koperasi untuk menjaga harga.

 

SEMARANG, jatengnetwork.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menyikapi penurunan harga garam rakyat saat musim panen. Petambak garam diimbau tidak terburu-buru menjual hasil produksi dan mulai memperkuat kerja sama melalui koperasi.

Eits...jangan scroll dulu

Kabid Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, Lilik Harnadi, mengatakan kondisi cuaca kemarau tahun ini cukup mendukung produksi garam di sejumlah sentra di Jawa Tengah.

Menurutnya, terdapat sembilan daerah yang menjadi sentra produksi garam di Jawa Tengah. Total produksi garam pada 2025 mencapai 283.202,19 ton.

Baca Juga: Dieng Culture Festival 2026 Digelar 28-30 Agustus, Jazz Atas Awan Kembali dan 10 Anak Gimbal Dicukur

Kabupaten Pati menjadi daerah dengan produksi garam terbesar, yakni 211.544,23 ton. Selanjutnya Rembang dengan 42.112,30 ton, Jepara 14.174,36 ton, Demak 13.868,66 ton, Brebes 1.294,35 ton, Purworejo 136,91 ton, Kebumen 38,68 ton, Grobogan 30,95 ton, dan Cilacap 1,75 ton.

Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan produksi garam terbesar kedua di Indonesia.

“Tahun kemarin sempat turun karena kemarau basah. Pada 2024 produksi kita menyentuh 536.612,56 ton. Tahun ini diprediksi suhu meningkat sekitar 2 derajat Celsius, sehingga kondisi cuaca lebih kering. Sampai November mungkin masih bisa panen,” kata Lilik.

Baca Juga: Menuju Puncak Kreativitas Roda Dua: Honda Modif Contest 2026 Siap Manjakan Pencinta Modifikasi Tanah Air

Produksi Melimpah, Harga Garam Rakyat Tertekan

Di sisi lain, peningkatan produksi garam diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap harga di tingkat petambak. Pasokan yang melimpah membuat harga garam rakyat berpotensi mengalami penurunan ketika panen berlangsung.

Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Kabupaten Demak. Saat ini, harga garam yang dihasilkan petambak setempat berada di kisaran Rp60 ribu per kuintal atau sekitar Rp600 per kilogram.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DKP Jawa Tengah mendorong petambak memaksimalkan keberadaan koperasi. Koperasi dinilai dapat membantu petambak mengelola hasil produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penjualan langsung ketika harga sedang rendah.

Lilik mencontohkan praktik yang dilakukan petambak garam di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.

https://www.jatengnetwork.com/jateng/28417497518/harga-garam-rakyat-jateng-anjlok-saat-panen-pemprov-imbau-petambak-tahan-penjualan

Anda mungkin juga menyukai