SEMARANG, jatengnetwork.com – Tak pernah ada yang menduga, bagaimana sebuah gerakan menjadi besar pada ujungnya.
Dan ketika goresan mungil si kecil Sheanny Clarissa, tidak pernah terpikir bahwa wadah inklusif seni ini akan terlahir.
Pun ketika mimpi sederhana gadis berusia 7 tahun ini yang justru membawa kelahiran Jagat Rupa Nusantara.
“Awalnya hanya ingin mewujudkan mimpi anak pertama saya hingga kemudian Jagat Rupa Nusantara hadir dan semoga menjadi gerakan nasional di industri seni,” tutur sang founder, Natalie Suhendrik.
Binar sepasang mata lentik yang penuh kekaguman terhadap warna, lalu gerak lembut sapuan kuas di atas kanvas, meluluhkan hati sang ibu.
Apalagi bagi Sheanny, torehan crayon dan kemudian melukis dengan kuas adalah Bahasa tanpa kata.
Sebuah ruang dimana imajinasi bebas bernapas tanpa batas, tanpa cela dan sumpah serapah.
Kecintaan yang begitu murni terhadap keindahan rupa membawanya pada sebuah perjalanan tak terduga yakni perjalanan yang mempertemukannya dengan para maestro dan pelukis senior.
Dari setiap sudut studio para seniman itulah gadis berusia 7 tahun ini belajar bahwa seni bukan hanya soal keindahan visual yang memanjakan mata, melainkan soal kedalaman jiwa dan warisan budaya yang harus dijaga.
Interaksi lintas generasi ini menciptakan sebuah harmoni unik, antara semangat muda yang membara dan kebijaksanaan para senior yang penuh pengalaman.
Namun, Sheanny kecil merasa keindahan dunia yang ia temukan ini terlalu luas jika hanya dinikmati sendiri.
https://www.jatengnetwork.com/gaya-hidup/28417076643/jemari-kecil-dan-mimpi-besar-yang-membawa-kelahiran-jagat-rupa-nusantara


