SEMARANG – Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin, sejumlah capaian pembangunan menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang tahun 2025 mencapai 85,80, naik dari 83,05 pada 2020 dan berada di atas rata-rata Jawa Tengah maupun nasional.
Angka kemiskinan juga turun signifikan dari 11,84 persen pada 2020 menjadi 9,36 persen pada 2025. Tingkat pengangguran yang sempat menyentuh 9,54 persen saat pandemi kini berhasil ditekan menjadi 4,66 persen pada 2024, lebih rendah dari rata-rata provinsi dan nasional. Pertumbuhan ekonomi pun stabil di atas 5 persen, bahkan sempat mencapai 6,42 persen.
Capaian tersebut tidak lepas dari program “Semarang Bersih” yang mengusung konsep ekonomi sirkular. Melalui penguatan bank sampah, jumlah unit aktif meningkat dari 664 menjadi 857 unit pada 2025, dengan total pengelolaan sampah mencapai 1.705,7 ton. Kolaborasi dengan PKK menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp1,89 miliar dari pengelolaan 1.080 ton sampah.
Gerakan “ASN Wegah Nyampah” turut menekan produksi sampah kantor hingga 4,3 ton per hari. Pemerintah juga menambah sarana kebersihan seperti kontainer sampah, TPS, TPS3R, serta IPAL domestik di sejumlah lokasi.
Di sektor lingkungan, Pemkot Semarang menghijaukan 16,58 hektare lahan dengan 46.510 bibit pohon hingga akhir 2025. Tiga taman baru dibangun, yakni Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, dan Taman Dinar Mas Meteseh, serta revitalisasi sejumlah taman lainnya.
Memasuki tahun kedua, Pemkot menargetkan pengurangan plastik sekali pakai, peningkatan jumlah bank sampah menjadi 1.468 unit, pembangunan IPAL TPA Jatibarang, serta penghijauan 17 hektare lahan baru dengan 50.000 bibit pohon. Sejumlah taman baru juga direncanakan dibangun di berbagai wilayah Kota Semarang.
Agustina menegaskan pembangunan diarahkan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kebersihan lingkungan, dan kesejahteraan warga, sebagai fondasi menuju kota yang tangguh dan berkelanjutan.
