JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas terhadap inflasi nasional.
Hal ini terungkap dalam riset BRI Danareksa Sekuritas yang dirilis pada Senin (20/4). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa efek inflasi relatif kecil karena BBM nonsubsidi umumnya dikonsumsi oleh kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.
Selain itu, penyesuaian harga hanya terjadi pada jenis BBM tertentu, yakni Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite, dengan rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara itu, harga Pertamax belum mengalami perubahan.
Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menjelaskan bahwa kontribusi BBM nonsubsidi terhadap inflasi cenderung terbatas.
Baca Juga: MTQ Nasional 2026 Digelar di Semarang, Diikuti 8.000 Peserta dari 38 Provinsi
"Meski BBM nonsubsidi mencakup 44% konsumsi total BBM, relevansinya terhadap inflasi melemah karena komposisinya masih didominasi Pertamax. Produk yang naik paling tajam, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah," kata Helmy dalam risetnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data historis, kenaikan harga BBM kelas atas tidak memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi.
"Secara historis, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase, jauh di bawah dampak penyesuaian BBM subsidi."
Menurutnya, tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi hanya bersifat marjinal dan bukan faktor utama dalam pembentukan inflasi secara keseluruhan.
"Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marjinal, bukan menjadi pendorong utama inflasi keseluruhan," ujarnya.
Baca Juga: Menpar Widiyanti Putri Wardhana: Bali Spirit Festival 2026 Bisa Jadi Event Unggulan Nasional
Di sisi lain, dinamika global turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Sempat terjadi penurunan harga minyak Brent hampir 10% hingga ke level USD 86 per barel setelah pembukaan sementara Selat Hormuz pasca gencatan senjata.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat mempertahankan blokade laut, sementara Iran memberlakukan syarat ketat terhadap jalur pelayaran.
Situasi kembali memanas pada Sabtu (18/4) ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan lanjutan dari AS, termasuk rencana penyitaan kapal tanker terkait Iran. Dampaknya, harga minyak Brent kembali naik dan menembus level USD 90 per barel.***
https://www.jatengnetwork.com/ekonomi/28417023666/riset-ungkap-kenaikan-bbm-nonsubsidi-tak-banyak-pengaruhi-inflasi-ini-alasannya
